Tuesday, November 27, 2012

Tarbiyah Jalan ku…!!!

Tags


Kepekaan terhadap agama bukan lagi menjadi hal penting saat sekarang ini, hilangnya identitas diri sebagai remaja muslim sudah menjadi hal yang sangat biasa, memprihatinkan memang melihat pertumbuhan remaja muslim di kota ku sarat akan kebebasan. kebebasan dalam hal-hal yang jauh dari dampak positif, aku terbilang sangat baru dalam menapaki langkah ku memahami ISLAM, jelas sekali ini merupakan konsekuensi untuk ku yang selalu meremehkan proses tarbiyah, entah lah, yang ada dibenak ku sekarang hanya lah bagaimana memanipulasi pikiran ku yang telah lama terkontaminasi oleh ‘virus – virus ‘ cinta dunia. jika yang lain sibuk menanti maka aku juga sibuk mencari. mungkin ini cara ku menjemput hidayah Allah.
            satu tahun yang lalu, tepatnya saat pertama kali aku menginjakan kaki di rumahku yang baru, dan untuk kedua kali nya aku diperkenalkan dengan media tarbiyah yang tidak begitu asing untuk ku, wajar saja karna aku pernah berkecimpung di dalam nya walaupun hanya tiga minggu kalau aku tidak salah mengingatnya. Awalnya aku berpikir ini akan menjadi kesempatan yang baik untuk ku mendapatkan teman-teman yang baru, mengingat aku juga orang baru disini, tapi ternyata Allah juga punya tujuan yang lain dibalik ketidak sengajaan ku bergabung di halaqo yang baru ini. Halaqo ? mungkin banyak dan hampir kebanyakan orang tidak begitu familiar dengan kata ‘Halaqo’. Bahkan aku pernah terlibat dalam percakapan singkat dengan teman sekelas ku dikampus mengenai keingin tahuan nya akan halaqo.
“ aku sering dengar dari teman-teman kita tentang alasan mu yang selalu menolak untuk bergabung dengan kami saat liburan, halaqo kan ?? tapi gak satu pun dari mereka mengerti bahkan membuat ku paham tentang halaqo, sebenarnya apaan sih tuh ? sejenis olah raga dari arab ya ? ” teman ku memulai pembicaraan saat kami berada dalam ruang kelas,
 “hmmm……” aku mulai berpikir sambil melanjutkan jawaban ku “ gini aja deh karna aku juga baru banget sih join tp yang ku tahu halaqo itu diambil dari bahasa arab yang artinya melingkar”
“melingkar? Ular ?” temanku mulai nyeletuk,
“hehehehehe….. ya gak lah, itu cuma perumpamaan aja sih,yang pasti duduknya melingkar kayak konfrensi meja bundar tp pada intinya kita semua diberikan pembekalan ilmu tentang agama, motivasi hidup dan juga kita belajar membaca Al Qur’an “
“ohhhh….. kayak pengajian remaja mesjid gitu ya?”
“iya….bener banget, tapi beda nya pengajian ini khusus untuk remaja putra aja kalo yang putri mah beda lagi”
“assiiikkk…..tapi sejak kapan kamu hobi yang begituan ? lagian aneh banget pengajian mu, mau ngaji aja sampek harus dibedain putra sama putri nya… jangan-jangan pengajian kamu itu pengajian buat ngerekrut teroris-teroris muda ya ? kamu kan udah cocok banget tuh jadi teroris ada janggutnya “
“ini kan sunnah kale….” Aku hanya bisa tersenyum tanpa memberikan penjelasan tambahan pada nya.

Begitulah cerminan remaja muslim kita saat ini, bukan berarti aku merasa lebih baik atau lebih suci dari mereka tapi inilah realita yang harus kita hadapi sekarang, krisis iman yang membuat setiap pribadi enggan menunjukan identitas diri mereka sebagai remaja muslim. Merasa aneh dengan pengajian yg kental akan syariat, malu melakukan hal-hal yang baik, meninggalkan perintah sholat tanpa beban bahkan sudah benar-benar jauh dari Al Qur’an. Wajar jika ini menjadi alasan ku untuk selektif dalam memilih teman, karna rasul sendiri memberikan perumpamaan dalam persahabatan, beliau berkata “ seorang sahabat merupakan cerminan sahabat-sahabatnya, jika kamu ingin mengetahui tingkah laku seseorang maka perhatikan lah dengan siapa dia bersahabat”.
            Aku benar-benar memantapkan diriku untuk istiqomah dijalan dakwah, walaupun pemahaman ku masih amat terbatas tapi pepatah “Man Jadda wajada” masih tetap ku pegang, kadang aku berpikir jalan ini pasti sunyi namun bertemunya aku dengan sang murobbi, dan teman-teman yang memiliki satu visi membuat rasa gelapnya kesunyian itu tersingkap. Terlepas dari pandangan orang-orang sekitar ku yang  menganggap implementasi syariat dalam kehidupan sehari-hari masih ‘aneh’. Aku benar-benar ‘tergelitik’ ketika teman ku bertanya masalah pacaran.

“kamu gak normal ya ??? soalnya aku gak pernah liat kamu dekat sama cewek apa lagi jalan sm cewek. Kurang tertarik ya sm cewek ? “ pertanyaan itu menyentak ku seketika.
“buat apa ?? penting ya ?” jawab ku agak kesal.
“ hello……ini jaman modern, masak iya sih gak punya pacar…ahhh kamu homo kali ya ?”
“Astagfirullah…….. Seharusnya bukan itu kata-kata yang keluar dari mu saudari ku “ aku mulai menahan emosi ku.
“makin banyak orang aneh ya sekarang……sok fanatik agama, gmn kamu mau dapat istri kalau pacaran aja gak mau, nunggu jodoh turun dari langit ?? jodoh memank di tangan Allah tapi kalau gak dicari gimana mau dapat “ temen ku makin nyolot.
“ apa untungnya pacaran buat kamu ?? apa kamu ngerasa kamu lebih baik dgn pacaran ? aku gak pacaran karna aku ingin memuliakan wanita… dengan menjaga nama baik nya, keluarganya dan lingkungannya…. Seharusnya sebagai wanita kamu tahu dampak buruk buat kamu ketika kamu terikat dalam hubungan yang tidak halal…apa kamu yakin cowok yang macarin kamu sekarang bakal jadi suami mu ?? kalau tiba-tiba dia mutusin kamu ?? “ aku berusaha membuka pikirannya.

Alhamdulillah jawaban ku cukup berhasil memukul mundur serangan – serangan nya, walaupun tidak membuatnya sadar tapi syukurlah  dia pergi meninggalkan ku tanpa merespon kembali jawaban ku. Jujur saja aku bukan orang ‘lama’ yang telah berpeluh dalam dakwah, aku juga masih belajar untuk mengekang emosi yang berlebih meski kadang lidah ku keluh ketika emosi mengusaiku, sering kali tujuan hidup menjadi kajian ku ketika malam menyelimuti, ditemani kantuk aku berusaha bertafakur. Memaknai tiap kejadian yang terukir, menyelami tiap pelajaran hidup yang telah tertapaki, memblokade kesalahan – kesalahan yang sama.
Banyak hal yang ku lalui dan perjalanan ku tidak selalu datar, ada waktu ketika tertawa mulai melalaikan ku,  ketika aku harus tersenyum dalam kesedihan, ketika aku harus membendung duka mendalam, bercengkrama dengan masalah. Tapi warna warni itu lah yang membuat ku memahami tiap jengkal waktu yang Allah berikan pada ku, hal – hal ini yang membuat ku rindu akan tarbiyah dalam halaqoh, tidak peduli jika harus dikatakan sok fanatik, terlalu kampungan, jadul, teroris bahkan munafik oleh segelintir orang. Aku paham betul dengan langkah yang aku ambil, langkah menuju ridho Nya dan langkah yang akan membawa ku bertemu dengan Nya nanti dengan rasa bangga. suatu saat aku pasti lebih yakin dengan tujuan ku.
BY : ALFA SALEH


EmoticonEmoticon