Skip to main content

Jenjang Menuju Takwa

Menurut para ulama, takwa berarti hendaklah Allah tidak melihatmu dalam larangan-larangannya dan tidak kehilanganmu dalam perintah-perintahnya. Ubai bin Ka’ab memberikan ilustrasi takwa dengan bersiap-siap dan berjalan dengan hati-hati saat melewati jalan penuh duri. Menurut Sayyid Quthb dalam Fi Zhilalil Qur’an, “Itulah takwa, kepekaan batin, kelembutan perasaan, rasa takut terus menerus, selalu waspada dan hati-hati jangan sampai kena duri jalanan.. jalan kehidupan yang selalu ditaburi duri-duri godaan syahwat, kerakusan dan angan-angan, kekhawatiran dan keraguan, harapan semu atas segala sesuatu yang tidak bisa diharapkan. Ketakutan palsu dari sesuatu yang tidak pantas untuk ditakuti… dan masih banyak duri-duri yang lainnya”. Dalam Al-Qur’an berapa kali disebutkan perintah “Bertakwalah!”? Hal ini bukan berarti kita tidak bertakwa lalu disuruh bertakwa. Namun ketakwaan adalah sesuatu yang harus terus ditingkatkan. Terus ditambah dan ditingkatkan lagi. Hendaknya kita selalu berproses untuk meningkatkan ketakwaan kita dengan menapaki tangga-tangga takwa (madariju at-taqwa).
Madariju at-takwa itu ada 5: mu’ahadah, muroqobah, muhasabah, mu’aqobah, dan mujahadah.

  • Mu’ahadah – Mengingat Perjanjian “Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji” (An-Nahl: 91) Setiap hari dalam Al-Fatihah yang kita baca, kita berjanji pada Allah untuk hanya menyembah dan meminta pertolongan padaNya. Selain itu, sebenarnya waktu masih belum lahir, waktu kita masih di alam ruh, Allah telah mengambil persaksian dari semua manusia untuk tidak menyekutukannya. Ayo, masih ingat peristiwa ini ada di Al-Qur’an surat apa dan ayat berapa? Pun dengan syahadat yang selalu kita ulang-ulang setiap hari: aku bersaksi tiada Tuhan (Ilah) selain Allah. Tuhan di sini menggunakan kata ILAH yang maknanya “yang ditakuti, yang dicinta, yang diikuti, yang diharapkan” dan semua itu mengantarkan pada penghambaan yang sempurna. Orang yang menghamba hanya pada Allah, beriman pada Allah, akan merasa tenang hatinya karena yakin dengan jaminan Allah dan ridho dengan semua kehendakNya. Contohnya, gak takut gak kebagian rezeki karena Allah udah menjamin rezeki setiap makhlukNya. 
  • Muroqobah – Merasakan Kesertaan Allah Ada beberapa macam muroqobah: Muroqobah dalam melaksanakan ketaatan adalah dengan ikhlas karena Allah Muroqobah dalam kemaksiatan adalah dengan taubat, penyesalan, dan meninggalkannya secara total Muroqobah dalam hal-hal yang mubah adalah menjaga adab terhadap Allah dan selalu bersyukur atas nikmatNya Muroqobah dalam musibah adalah dengan ridha kepada ketentuanNya dan memohon pertolonganNya dengan penuh kesabaran. Intinya adalah merasakan keberadaan Allah di setiap kesempatan, baik dalam kondisi ramai maupun sendirian. Karena sebenarnya, kita sebagai manusia itu seperti aktor, yang setiap saat selalu disorot oleh “kamera”-nya Allah, dan suatu hari (di akhirat) rekaman catatan itu akan diputar di hadapan banyak orang. 
  • Muhasabah – Introspeksi Diri Bagusnya setiap hari hal ini dilakukan. Caranya adalah dengan memeriksa amalnya, apakah karena Allah atau karena kepentingan pribadi/popularitasnya belaka? Umar bin Khattab berkata, “Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab, timbanglah diri kalian sebelum kalian ditimbang, dan bersiap-siaplah untuk pertunjukkan yang agung (hari kiamat). Di hari itu kamu dihadapkan kepada pemeriksaan, tiada yang tersembunyi dari amal kalian barang satu pun.” Merenungkan kembali “perniagaan dengan Allah”, apakah merugi (banyak dosa) ataukah untung (banyak kebaikan pendulang pahala). Ingatlah, hanya berniaga dengan Allah lah yang pasti laku, pasti untung berlipat ganda. Salah satu aspek yang perlu diintrospeksi adalah ibadah harian, atau nama bekennya mutaba’ah yaumiyah: tahajud kah tadi malam? shalat dhuha kah? tilawahnya berapa lembar? shalat rawatib berapa kali? dll. 
  • Mu’aqobah – Pemberian Sanksi Pembaca pasti pernah mendengar kisah seorang Umar bin Khattab yang terlambat shalat berjama’ah karena asik mengawasi kebunnya. Apa yang dia lakukan? Dia meng-iqob dirinya dengan menyedekahkan seluruh kebunnya! Begitulah agar kesalahan tidak menjadi kebiasaan seorang mukmin, maka ketika salah ia menghukum dirinya agar sadar bahwa ia telah melakukan kesalahan. Iqob yang diberlakukan adalah sesuatu yang mubah, tidak boleh yang haram atau membahayakan/menzhalimi diri sendiri. Contohnya, kalau terlewat shalat tahajud semalam bisa meng-iqob diri dengan menggandakan shalat dhuha dan tilawah di hari itu. Agar terasa bekasnya pada jiwa, bahwa sebuah kelalaian adalah sebuah kesalahan, bukan sesuatu yang dapat begitu saja dimaklumi lalu dilupakan. 
  • Mujahadah – Optimalisasi “Apabila seorang mukmin terseret dalam kemalasan, santai, cinta dunia dan tidak lagi melaksanakan amal-amal sunnah serta ketaatan yang lainnya tepat pada waktunya, maka ia harus memaksa dirinya melakukan amal-amal sunnah lebih banyak dari sebelumnya”. Yap, memaksa diri untuk tidak malas-malasan dan tidak menuruti hawa nafsu, lalu melakukan kerja-kerja besar. Inilah mungkin mengapa ada orang yang bilang “myself is my biggest enemy”, karena setiap saat kita memang selalu berperang dengan hawa nafsu sendiri. Rasulullah saja yang dosa-dosanya diampuni, tetap shalat malam sampai bengkak kakinya. Para sahabat tidak kurang mencontohkan tentang bersungguh-sungguh dalam beribadah dan mengesampingkan hawa nafsunya. Jadi teringat pula ucapan Rasulullah pada Bilal, “Yaa Bilal, arihnaa bish-shalah”. Wahai Bilal, istirahatkan kami dengan shalat. Bagi kita yang terkadang berat melakukan shalat, mungkin berpikir kok bisa-bisanya shalat jadi istirahat. Tapi itulah Rasul dan para sahabat, waktu-waktu di luar shalat mereka adalah jihad dan kerja-kerja besar membangun peradaban.
    Semoga kita dapat meneladani mereka semua dalam menapaki tangga-tangga menuju takwa. Referensi: Tarbiyah Ruhiyah – Dr. Abdullah Nashih Ulwan

Comments

Popular posts from this blog

Algoritma Apriori : Contoh Sederhana Penerapan Algoritma Apriori pada Association Rule

teaching is only demonstrating that it is possible. learning is making it possible for yourself -Paulo Coelho- Kadang kala kita abai akan pentingnya proses 'belajar', yang kita harapkan hanya kesuksesan tanpa harus bersusah payah mewujudkan nya. bahkan di cerita dongeng sekalipun, happy ending tidak hadir begitu saja, selalu ada kisah pilu yang mengantarkan kita pada cerita indah di akhir. * ini lagi ngebahas apaan yak -_- by the way,  ini adalah kesempatan yang jarang saya dapatkan, di mana saya bisa tergerak kembali untuk menambah khazanah postingan di blog tercinta. pada postingan kali ini, saya akan fokus untuk membahas konsep 'Data Mining', spesifiknya yang saya akan coba share adalah penerapan algortima Apriori dalam lingkup aturan asosiasi (Association Rule Learning).  Association Rule Learning Bicara soal Association Rule ( Aturan Asosiasi), tidak lepas dari analisis asosiasi dimana konsep sebab-akibat (antecedant-consequent) menjadi poin penting dalam

K Means Clustering : Contoh Sederhana Penerapan Algoritma K-Means Clustering

A small group of determined and like-minded people can change the course of history-Mahatma Gandhi Tidak segala hal bisa kita lakukan seorang diri, senyaman apapun kita dengan kesendirian, saya yakin ada saat dimana kita berharap tidak ingin sendiri.  Kadang hidup berkelompok membuat kita paham bahwa banyak hal yang bisa dilakukan bersama tanpa harus takut dengan kegagalan. By the way, pada postingan kali ini, saya kembali akan berbagi ilmu yang tidak seberapa ini, dengan harapan dapat meng- enlightening khazanah keilmuan kalian seputar data mining. Mana tau nih ya, adik-adik mahasiswa lagi galau mikirin judul krispi eh skripsi maksud saya. Apa lagi yang fokus pada tema data mining. Kudu pada belajar ya kan *hehehehehe. Jika postingan sebelumnya saya sudah membahas tentang Algoritma Apriori ( baca disini! ), maka pada kesempatan kali ini saya akan mengulas tentang algoritma K-means Clustering. Here we go !! Cluster adalah kumpulan record yang mirip satu sama lain dan berbeda deng

Mewujudkan Harapan Baru bagi Kemajuan Daerah Terpencil Melalui Konektivitas untuk Pemerataan Pembangunan

“ Happiness lies in the joy of Achievement and the thrill of creative effort” –Franklin D. Roosevelt Bicara tentang Negara Indonesia, tentu kita akan disuguhi dengan kekayaan sumber daya alam yang melimpah di tengah masyarakatnya yang heterogen. Hidup berdampingan, bahu membahu membangun Indonesia agar menjadi lebih baik dan maju. Sejak tahun 1969, Pemerintah telah meletakan dasar-dasar pembangunan yang terencana dan komprehensif dengan berbagai upaya pembangunan di segala bidang untuk mewujudkan tujuan pembangunan nasional . Gejolak di berbagai bidang khususnya sosial, politik, dan ekonomi mengiringi perjalanan pembangunan bangsa Indonesia dari waktu ke waktu , Kesemuanya mampu bangsa ini lalui dengan baik. Tetapi, Gelombang yang menimpa Indonesia pada pertengahan tahun 1997 yang dikenal dengan istilah krisis moneter dan disusul dengan krisis ekonomi, krisis politik dan krisis kepercayaan, menjadi awal terpuruknya Indonesia. Hal tersebut membawa kerusakan di segi kehidupan y