Mata yang Lelah dan Mimpi yang tidak pernah Menyerah


Sejak lama, saya percaya bahwa mimpi dapat menjadi jalan bagi seseorang untuk melampaui batas keadaan dan, pada akhirnya, menghadirkan manfaat bagi orang lain.

Keyakinan itu tumbuh perlahan bersama perjalanan hidup saya hingga akhirnya membawa saya menjadi seorang dosen. Bagi saya, menjadi dosen bukan sekadar pekerjaan. Ada ruang pengabdian di dalamnya: menyalakan keberanian untuk belajar, membuka kesempatan, dan membantu generasi muda melihat masa depan dengan lebih percaya diri.

Di ruang kelas, saya sering menyaksikan sesuatu yang sederhana, tetapi bagi saya sangat berarti. Satu penjelasan yang tepat, satu kesempatan untuk mencoba, atau bahkan satu kalimat penyemangat terkadang mampu mengubah cara seorang mahasiswa memandang dirinya sendiri. Dari sanalah keinginan untuk terus bertumbuh semakin kuat.

Saya ingin peningkatan kapasitas akademik yang saya tempuh tidak berhenti sebagai pencapaian pribadi. ada keinginan akan ilmu yang diperoleh kelak kembali menjadi manfaat bagi mahasiswa, institusi, masyarakat, dan negara.

Karena itu, sejak beberapa waktu lalu, saya menyimpan satu mimpi yang cukup besar, melanjutkan pendidikan ke jenjang doktoral. Saat itu saya tahu apa yang saya inginkan, namun yang belum saya tahu adalah seberapa panjang perjalanan untuk mencapainya.

Mimpi yang Berawal dari Sebuah Layar

Ada masa ketika hampir setiap malam, laptop menjadi benda terakhir yang saya lihat sebelum tidur.

Bukan karena sedang menonton film atau anime kesukaan. Bukan pula karena sedang asyik bermain media sosial.

Saya sedang mengejar sesuatu yang sudah cukup lama tinggal di kepala, yaitu studi S3.

Di depan layar, saya melakukan begitu banyak hal. Membaca persyaratan kampus tujuan, mencari informasi tentang program studi, mempelajari profil calon promotor, membaca publikasi, menyusun rencana penelitian, mengisi formulir pendaftaran, menyiapkan dokumen, hingga mengirim email kepada calon promotor.

Setelah itu, saya menunggu.

Lalu memeriksa email.

Menunggu lagi.

Kemudian membuka email sekali lagi.

Begitu terus hampir setiap hari. Saya bahkan sering baru menyadari waktu sudah larut ketika mata mulai terasa berat.

Awalnya hanya lelah. Lama-kelamaan mata terasa sepet, kemudian kadang perih setelah terlalu lama menatap layar. Biasanya saya hanya berhenti sebentar, memejamkan mata, mengusapnya, kemudian kembali bekerja.

“Sebentar lagi. Satu ini dulu.”

Satu dokumen.

Satu paragraf.

Satu formulir.

Sampai akhirnya, “sebentar lagi” berubah menjadi berjam-jam.

Pada waktu itu saya menganggap semuanya merupakan bagian dari perjuangan. jika ingin mencapai sesuatu yang besar, harus bersedia bekerja lebih keras. Saya belum menyadari bahwa bekerja keras dan memaksakan diri adalah dua hal yang berbeda.

Mengejar S3 Ternyata Bukan Sekadar Mendaftar

Sebagai seorang dosen, melanjutkan pendidikan ke jenjang doktoral bagi saya bukan sekadar tentang mendapatkan gelar.

Ada harapan yang lebih besar di baliknya.

Saya ingin memperdalam ilmu yang selama ini saya ajarkan dan teliti. Saya ingin belajar lebih jauh tentang data dan machine learning. Saya ingin memahami bagaimana ilmu tersebut dapat dikembangkan menjadi penelitian yang lebih baik dan, yang paling penting, lebih bermanfaat.

Saya membayangkan suatu hari nanti kembali ke ruang kelas dengan membawa lebih banyak pengalaman untuk dibagikan kepada mahasiswa.

Namun sebelum sampai ke sana, saya harus melewati perjalanan yang panjang.

Saya mencari kampus.

Menemukan satu kampus yang terlihat menarik.

Saya baca lagi.

Kemudian menemukan kampus lain.

Saya membandingkan program studi, mencari calon promotor, membaca publikasi mereka, mencocokkan bidang penelitian, kemudian memberanikan diri mengirim email.

Lalu menunggu.

Ada email yang membuat saya tersenyum.

Ada pula email yang membuat saya kembali bertanya kepada diri sendiri,

“Apakah saya benar-benar mampu?”

Semakin lama, saya mulai memahami bahwa mengejar S3 bukan hanya tentang keinginan meningkatkan kemampuan akademik. Ada keberanian yang harus terus dipelihara di dalamnya. Keberanian untuk mengetuk pintu yang belum tentu terbuka, dan ketika pintu itu belum terbuka, saya harus mengetuk lagi.

Satu Pintu Akhirnya Terbuka

Setelah melewati berbagai proses pendaftaran, ujian kemampuan akademik, hingga ujian bahasa Inggris, akhirnya tibalah waktu yang saya tunggu.

Pengumuman penerimaan mahasiswa baru.

Saya membuka hasilnya.

Saya diterima.

Saya dinyatakan lulus sebagai mahasiswa baru doktoral di kampus tujuan.

Saya membaca pengumuman itu sekali.

Kemudian membacanya lagi.

Entah mengapa, saya masih ingin memastikan bahwa saya tidak salah membaca.

Ada rasa lega yang sulit dijelaskan.

Semua pencarian kampus, dokumen yang berkali-kali diperiksa, email yang dikirim, dan malam-malam panjang di depan laptop seolah menemukan jawabannya.

“Akhirnya bisa juga.” Saya tersenyum sendiri.


Saya sempat membayangkan bagaimana rasanya benar-benar duduk di ruang kuliah sebagai mahasiswa S3. Membayangkan penelitian yang selama ini baru berupa gagasan perlahan menjadi sesuatu yang nyata.Namun kebahagiaan itu tidak berlangsung terlalu lama sebelum satu pertanyaan baru muncul.

Bagaimana saya membiayai S3?

Saya mendapatkan LoA tetapi belum memiliki biaya untuk berangkat dan menjalani studi. Maka, perjalanan berikutnya dimulai, mencari beasiswa.

Laptop menjadi teman sehari-hari

Kalau sebelumnya saya sibuk mencari kampus, setelah mendapatkan LoA hampir setiap hari saya kembali mencari informasi beasiswa.

Saya membaca persyaratan.

Mencatat tenggat waktu.

Mengurus dokumen.

Meminta surat rekomendasi.

Mempersiapkan sertifikat bahasa Inggris.

Mengisi formulir.

Kemudian mengirim semuanya.

Setelah itu?

Menunggu lagi.

Ketika akhirnya mendapatkan kabar bahwa saya lolos seleksi administrasi, saya kembali merasa lega.

Setidaknya, satu pintu berhasil saya lewati.

Tetapi masih ada pintu berikutnya.

Tes Bakat Skolastik.

Saya tahu tes ini tidak bisa dianggap remeh. Maka saya mulai belajar lebih serius. Hampir setiap hari ada saja soal yang saya kerjakan.

Logika.

Numerik.

Analisis.

Mencari pola.

Kadang saya merasa mampu.

Kadang satu soal saja sudah cukup membuat kepala pening.

Dan semua itu kembali dilakukan di depan layar.

Laptop yang sebelumnya menjadi teman saya mencari kampus, kini menjadi teman saya belajar menghadapi tes beasiswa.

Hari demi hari berlalu.

Tanpa terasa, saya mulai merasakan sesuatu yang sebenarnya sederhana, tetapi sering saya abaikan.

Mata saya mulai lelah.

Awalnya hanya terasa berat.

Kemudian sepet.

Kalau terlalu lama menatap layar, terasa sedikit perih.

Biasanya saya hanya mengusap mata, memejamkannya sebentar, lalu kembali melanjutkan.

“Nanti juga hilang.”

Begitu pikir saya.

Toh, masih ada soal yang harus diselesaikan.

Masih ada target yang harus dikejar.

Ternyata mata juga punya batas

Sampai suatu malam saya berhenti cukup lama. Saya menutup laptop. Memejamkan mata. Dan untuk pertama kalinya saya berpikir: “Kok selama ini saya sibuk sekali mempersiapkan masa depan, tapi lupa menjaga diri untuk sampai ke sana?” Saya kemudian mulai belajar memberi jeda. Kalau sudah terlalu lama di depan layar, saya berusaha berhenti sebentar. Tidak memaksakan diri. Saya juga mulai menyediakan Insto Dry Eyes di meja kerja. Sebelumnya saya tidak terlalu memperhatikan apa yang sebenarnya ada di dalamnya. Saya hanya tahu ini tetes mata untuk membantu mengatasi mata kering.
Suatu ketika saya membaca kemasannya lebih teliti. Di sana tertulis bahwa Insto Dry Eyes mengandung Hydroxypropyl methylcellulose 3,0 mg dalam setiap mL larutan isotonik steril. Saya juga baru sadar ada petunjuk penggunaan yang cukup jelas: 1–2 tetes pada setiap mata, tiga kali sehari atau sesuai anjuran dokter. Bahkan cara penyimpanannya juga tercantum, yaitu pada suhu kamar tidak lebih dari 30°C. Saya pikir, menarik juga. Selama ini saya bisa begitu teliti membaca persyaratan beasiswa sampai hal-hal kecil, tetapi untuk sesuatu yang saya gunakan sendiri, terkadang saya malah malas membaca kemasannya. Sejak saat itu saya mulai lebih memperhatikan mata. Bukan hanya menggunakan tetes mata ketika diperlukan, tetapi juga memberi mata waktu untuk beristirahat. Karena ternyata, mengejar mimpi bukan berarti harus memaksa diri setiap saat. Kadang kita memang perlu berhenti sebentar.
Bukan untuk menyerah. Tapi supaya bisa melanjutkan perjalanan dengan lebih baik.

Insto Dry Eyes

Edukasi medis menyebutkan bahwa kelelahan menatap layar atau screen time berjam-jam saat belajar ujian S3, membuat frekuensi berkedip turun hingga separuhnya. Jika ditambah terpaan angin dan debu, lapisan air mata (tear film) runtuh. Gejala SePeLe (Sepet, Perih, Lelah) pun mengintai. Jika dibiarkan, iritasi ini bisa memicu peradangan yang lebih parah.

Mata butuh pertolongan, dan air mata alami yang lelah itu butuh penopang.

Penyelamat Kecil di Antara Layar dan Debu Jalanan

Di tengah rasa frustasi karena pekerjaan persiapan S3 yang tak bisa ditinggal, aku teringat satu penyelamat kecil yang kini selalu setia menemani. Botol biru mungil berukuran 7,5 ml itu berada tepat di sebelah laptop: Insto Dry Eyes

Insto dengan inovasinya yaitu varian Dry Eyes ini terasa sangat spesial karena diformulasikan khusus sebagai jawaban atas masalah mata kering. Di dalamnya terkandung bahan aktif Hydroxypropyl Methylcellulose (HPMC) yang bekerja membentuk lapisan pelindung transparan di atas permukaan kornea. Kerennya, HPMC memiliki tingkat kekentalan (viskositas) yang sangat mirip dengan air mata alami manusia, sehingga mampu bertahan lama untuk mengunci kelembaban mata.

Saat meneteskannya ke kedua mata, saya sempat bersiap menahan perih. Namun yang terjadi justru sebaliknya: tidak ada rasa perih sama sekali, yang ada hanyalah sensasi adem, menenangkan, dan rasa sejuk yang seketika membuat mata kembali segar (auto-refresh). Rasanya seperti memberikan seteguk air dingin pada tenggorokan yang dahaga di tengah gurun. Masya Allah, begitu menolong.

Insto Dry Eyes

Kini, botol imut dengan tutup biru wajib ada di dalam tas bahu maupun di samping meja kerjaku. Sebab, mata kering tak pernah mengabarkan kapan ia akan datang. Memilikinya di dekat saya memberikan rasa aman apalagi ketika batas waktu tugas dosen atau pendaftaran beasiswa sudah di depan mata dan pekerjaan tidak bisa ditunda, saya cukup meneteskan 1-2 tetes Insto Dry Eyes. Dalam hitungan detik, kenyamanan mata kembali dan fokus saya langsung pulih.

Produk ini sangat mudah didapatkan; saya biasa membelinya di Indomaret terdekat saat perjalanan pulang. Oiya meski khasiatnya sangat manjur, aturan pakainya tetap harus kita perhatikan. Gunakan 1–2 tetes pada masing-masing mata, sekitar 3 hingga 4 kali sehari saat dibutuhkan. Satu hal yang selalu kuingat: segera tutup botolnya rapat-rapat usai digunakan agar cairannya tetap steril dan terhindar dari kontaminasi. Dengan #InstoDryEyes #BebasMataKering #MataSePeLeJanganSepelein 

Karena Setiap Langkah Besar Butuh Penglihatan Sehat

Hari Tes yang Saya Tunggu Akhirnya Datang Hari TBS akhirnya tiba. Saya duduk di depan layar dengan semua persiapan yang sudah saya lakukan. Saya mencoba tenang. Membaca soal satu per satu. Mengatur waktu. Berusaha tidak panik. Tetapi semakin waktu berjalan, saya semakin sadar bahwa persiapan tidak selalu menjamin semuanya berjalan sesuai rencana. Ada soal yang bisa saya jawab dengan cepat. Ada yang membuat saya berpikir lama. Ada juga yang akhirnya harus saya tinggalkan karena waktu terus berjalan. Ketika tes selesai, saya hanya bisa menarik napas panjang. “Sudah. Saya sudah melakukan yang saya bisa.” Sekarang tinggal menunggu hasil. Dan seperti sebelumnya, saya kembali menjadi orang yang terlalu sering membuka email.

Email yang Tidak Ingin Saya Buka Lagi

Sampai akhirnya hasil itu datang. Saya gagal. Tidak lolos Tes Bakat Skolastik. Artinya, perjalanan saya di seleksi beasiswa itu berhenti di sana. Tidak ada tahap wawancara. Tidak ada pengumuman berikutnya. Selesai. Jujur, saya kecewa.Sangat. Bukan karena saya merasa harus selalu berhasil. Tetapi karena saya tahu berapa banyak waktu yang sudah saya habiskan untuk sampai di titik itu. Saya sudah mendapatkan LoA. Saya sudah lolos administrasi beasiswa. Saya sudah belajar. Saya sudah mencoba. Tetapi ternyata, kali ini belum cukup. Malam itu saya kembali duduk di depan laptop. Aneh rasanya. Laptop yang selama berbulan-bulan menjadi tempat saya mencari harapan, malam itu justru terasa seperti pengingat sebuah kegagalan. Saya menatap layar cukup lama. Kemudian mata saya kembali terasa lelah. Saya memejamkan mata. Dan untuk beberapa saat saya hanya diam.

Saya Boleh Kecewa, Tapi Tidak Boleh Berhenti

Setelah emosi saya lebih tenang, saya mulai memikirkan semuanya dari awal. Benarkah saya gagal? Ya. Saya gagal mendapatkan beasiswa itu. Tidak perlu saya tutupi. Tetapi apakah saya gagal mencapai mimpi untuk kuliah S3? Belum. Itu dua hal yang berbeda. Saya mungkin gagal melewati satu pintu. Tetapi masih ada pintu-pintu lain. Saya mungkin belum mendapatkan beasiswa kali ini. Tetapi masih ada kesempatan lain yang bisa saya coba. Dan yang paling penting, saya sudah tahu bahwa saya mampu sampai sejauh ini.Saya sudah berani mendaftar.Saya sudah diterima di kampus tujuan.Saya sudah melewati seleksi administrasi.Saya sudah berani menghadapi TBS.Memang, saya belum berhasil melewati semuanya.Tetapi saya juga tidak kembali ke titik nol.Saya membawa pengalaman.Saya membawa pelajaran.Dan saya membawa satu keyakinan baru:Kegagalan satu kali tidak berhakmenentukan akhir dari sebuah mimpi.

Mata Boleh Lelah, Mimpi Jangan Menyerah

Sekarang, ketika kembali membuka laptop dan mencari informasi beasiswa, saya melihat semuanya sedikit berbeda. Saya masih punya target. Masih punya rasa khawatir. Masih ada kemungkinan gagal lagi. Tetapi saya tidak lagi ingin terburu-buru. Kalau mata mulai terasa sepet, saya berhenti sebentar. Kalau terasa perih atau lelah setelah terlalu lama menatap layar, saya memberi waktu untuk beristirahat.

Kalau perlu, saya menggunakan Insto Dry Eyes sesuai petunjuk pada kemasan. Bagi saya, itu bukan berarti saya menjadi lebih lambat mengejar mimpi. Justru saya sedang belajar menjaga diri supaya bisa terus mengejarnya. Karena saya masih punya banyak hal yang ingin saya lihat. Saya ingin melihat diri saya menjadi mahasiswa S3. Saya ingin melihat penelitian yang selama ini hanya ada di kepala menjadi sesuatu yang nyata. Saya ingin melihat mahasiswa-mahasiswa saya tumbuh dan berhasil. Dan tentu saja, saya masih ingin melihat satu email yang mungkin suatu hari nanti akan mengubah perjalanan saya:

“Selamat, Anda dinyatakan sebagai penerima beasiswa.” Saya tidak tahu kapan email itu akan datang. Mungkin tahun ini. Mungkin tahun depan.Mungkin saya harus mencoba beberapa kali lagi.Saya tidak tahu. Tapi saya tahu saya akan mencarinya. Saya akan mendaftar lagi. Belajar lagi. Mencoba lagi.

Karena ternyata, mengejar mimpi bukan tentang tidak pernah gagal. Mengejar mimpi adalah tentang tetap bersedia mencoba setelah kita gagal. Dan dalam perjalanan itu, saya juga belajar sesuatu yang sederhana. Kita sering begitu sibuk memikirkan masa depan sampai lupa menjaga diri di hari ini. Padahal, mimpi yang ingin kita lihat di masa depan membutuhkan tubuh yang sehat untuk sampai ke sana. Termasuk mata yang setiap hari membantu kita membaca, belajar, bekerja, dan melihat jalan di depan. Jadi sekarang, ketika mata terasa lelah, saya tidak lagi menganggapnya sebagai sesuatu yang harus ditahan. Saya berhenti. Saya istirahat. Saya merawatnya. Lalu ketika sudah siap, saya kembali melangkah. Karena perjalanan saya belum selesai. Saya memang gagal mendapatkan satu beasiswa. Tetapi saya belum gagal mendapatkan masa depan yang saya impikan. Dan mungkin, suatu hari nanti, ketika akhirnya saya duduk di ruang kuliah sebagai mahasiswa S3, saya akan mengingat semua malam ini. Malam ketika saya menatap layar terlalu lama. Malam ketika mata saya sepet dan perih. Malam ketika sebuah email membuat saya kecewa. Dan malam ketika saya memutuskan untuk mencoba lagi. Saat itu mungkin saya akan tersenyum dan berkata kepada diri sendiri: “Ternyata waktu itu bukan akhir. Saya hanya sedang diminta untuk beristirahat sebentar sebelum melanjutkan perjalanan.” Karena sekarang saya tahu mata boleh lelah, hati boleh kecewa, langkah boleh berhenti sebentar. Tetapi selama mimpi itu masih ada, saya belum selesai.







Post a Comment

0 Comments